KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan sosok dengan berbagai macam penyebutan. Ada yang menyebut bapak demokrasi, bapak pluralisme, cendekiawan, guru bangsa, pemikir ulung, dan tentu saja seorang kiai dan ulama. Ada juga yang berkelakar Gus Dur adalah bapak humoris causa, sebutan khas karena Gus Dur terkenal dengan joke-joke cerdasnya dan raihan penghargaan sebagai doktor kehormatan (doktor honoris causa) dari 10 universitas terkemuka di dunia.



Namun, Gus Dur sendiri tidak pernah menahbiskan diri terkait sebutan-sebutan tersebut. Ia hanya ingin dikenang sebagai pejuang kemanusiaan. Basis kemanusiaan (humanisme) ini yang menjadi pondasi perjuangan Gus Dur melalui prinsip dan ajaran agama, demokrasi, politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Sehingga di batu nisannya tertulis “Here Rests a Humanist (di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan)” yang ditulis dalam empat bahasa, Indonesia, Arab, Inggris, dan Mandarin yang terbuat dari batu giok kualitas tinggi dari negeri Tiongkok. Muara dari perjuangan Gus Dur ialah terciptanya masyarakat berkeadilan, damai, dan bersatu di tengah kemajemukan. Idealisme perjuangan
Gus Dur tak jarang menemui pragmatisme elit-elit tertentu. Apalagi jika elit bersekutu dengan kelompok oligarki, kemakmuran masyarakat di sebuah negara seakan utopis. Ketika seluruh elemen bangsa terdiam dengan otoritarianisme rezim Orde Baru Soeharto, Gus Dur justru paling vokal melawan praktik politik nir-demokrasi dan penuh dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) ini. Gus Dur walau terkenal taktis juga kritis terhadap Soeharto. Tetapi, Gus Dur juga kerap melontarkan humor-humor atau kelakar yang secara tidak langsung menyinggung rezim Orde Baru. Perjuangan Gus Dur tersebut menimbulkan konsekuensi pribadi. Ia beberapa kali menemui ancaman pembunuhan. Beberapa aktivis demokrasi hidupnya memang tidak aman ketika itu. Sosok Gus Dur yang berani dengan pijakan-pijakan kokoh memberikan energi positif kepada aktivis-aktivis lain. Namun, beberapa kalangan juga mengkhawatirkan keselamatan Gus Dur. Mereka salut dengan keberanian Gus Dur melawan diskriminasi Orde Baru.

baca juga :Mereka Menjerat Gus Dur dan Menjatuhkannya dari Kursi Presiden dengan Segala Cara

Suatu ketika, wartawan senior Selamun Yoanes Bosco atau yang dikenal Don Bosco Selamun dalam Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017: 64) menceritakan pengalaman mewawancarai Gus Dur. Ia salut dengan keberanian Gus Dur di tengah ketakutan orang-orang pada waktu itu.
“Gus, (dengan keberanian Anda) Anda ingin dikenang sebagai apa jika Tuhan memanggil kelak?” tanya Don Bosco Selamun. “Tulis di batu nisan saya: Di sini beristirahat seorang pejuang kemanusiaan sejati,” jawab Gus Dur.
 “Ndak ingin dikenang sebagai tokoh Muslim yang hebat, Gus?”
 “Apa pentingnya?” Gus Dur balik bertanya.
 “Atau dikenang sebagai pejuang demokrasi gitu, Gus?”
“Mungkin situ berpikir itu penting, tetapi bagi saya pejuang kemanusiaan saja. Cara saya, ya, demokrasi,” kata Gus Dur.
Perjuangan kemanusiaan yang dilakukan oleh Gus Dur melalui demokrasi di antaranya menguatkan prinsip-prinsip Pancasila dan konstitusi negara secara umum sembari terus berupaya memberantas korupsi. Bagi Gus Dur nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah memenuhi pokok-pokok syariat Islam sehingga pada 1984 ketika dirinya pertama kali dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU, NU merupakan ormas Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Perdebatan yang mengemuka ketika itu adalah hubungan Pancasila dengan Islam.

Sumber: 
https://www.nu.or.id/post/read/115714/cerita-gus-dur-dan-tulisan-di-batu-nisannya